kurnia
New member
Nasirun (1965–2026) dikenal sebagai perupa yang menghadirkan tradisi dan spiritualitas ke dalam karya seni kontemporer yang khas, reflektif, dan relevan dengan masa kini melalui cerita wayang dan dongeng mistik warisan ibunya, serta nilai-nilai tasawuf Islam yang dilakoni ayahnya. Lulusan Seni Kriya Batik dan Seni Murni ASRI/ISI Yogyakarta (1994) ini aktif berkarya dan telah banyak berpameran di Indonesia maupun mancanegara, baik tunggal maupun bersama, beberapa di antaranya di Galnas.
Salah satu karyanya, Persembahan untuk Bathara Guru (1999), dihibahkan kepada Galnas (2013) dan menjadi koleksi negara. Ia meraih Penghargaan Sketsa dan Seni Lukis terbaik ISI Yogyakarta, McDonald Award pada Lustrum ISI ke-X, Philip Morris Award (1997), serta Rekor MURI atas tiga karya seninya yang dipamerkan di Sportorium UMY (2016).
Sedangkan pameran bersama yang pernah Nasirun ikuti sebagian di antaranya “Pathos of the Fringes” (Jeonbuk Museum of Art, Korea Selatan, 2017), “Shah Alam Bienalle” (Malaysia, 2017), “Merayakan Optimisme” (Jogja National Museum, 2019), pameran virtual UI Art X (Universitas Indonesia, 2020), “Yogya Annual Art” (Sangkring Art Space, Yogyakarta, 2021), “Manifesto” (Galeri Nasional, Jakarta, 2022), “Bridge of Colour” (Thailand, 2022), “Bias Borneo” (Taman Budaya Kalimantan Selatan, 2022),“Wiwitan Poso”(Kiniko, Polda DIY, 2023),“Hidup”(Langgeng Art Foundation, Yogyakarta 2023), “Symphony” Kaligrafi oleh UIN Sunan Kalijaga (Taman Budaya Yogyakarta, 2023), “Kita Berteman Sudah Lama” (Bentara Budaya Yogyakarta, 2023), “MEMOAR 24/101” (Universitas Nahdlatul Ulama, Yogyakarta, 2024), pameran MayinArt (Singapore, 2024), dan masih banyak lainnya.
Miniatur Konflik
Ratu Sejagat
Rebut Dupa
Miss Universe
Imaji Bintang Bima Sakti
Jatilan
Wewayangan Zaman Edan
Kabeh Nganggo Tasmak
Kangen
Ojo Dumeh
Warisan Mahakarya
Wayang Melayu 1 & 2
Salah satu karyanya, Persembahan untuk Bathara Guru (1999), dihibahkan kepada Galnas (2013) dan menjadi koleksi negara. Ia meraih Penghargaan Sketsa dan Seni Lukis terbaik ISI Yogyakarta, McDonald Award pada Lustrum ISI ke-X, Philip Morris Award (1997), serta Rekor MURI atas tiga karya seninya yang dipamerkan di Sportorium UMY (2016).
Pameran seni rupa Nasirun
Sejak periode kuliah di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) tahun 1987-1994 hingga sekarang, beliau telah menyelenggarakan ratusan pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Pameran tunggalnya antara lain “Uwuh Seni” (Galeri Salihara, Jakarta, 2012), “Breath of Nasirun” (Mizuma Gallery Tokyo, Jepang, 2014), “RUN– Embracing Diversity” (Sportorium, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2016), “Wirid on Canvas” (Natan Galeri, Kotagede, Yogyakarta, 2018), “Menafsir Borobudur” (Latar Galeri, Lobby BTPN CBD Sinaya, Jakarta, 2020), pameran virtual “Membaca Tanda Zaman” (Live on Youtube, 2020), “Metajagad Nasirun” (Soboman Art, Yogyakarta, 2021), dan pameran tunggal terbarunya “Perayaan Persahabatan” (Museum OHD, Magelang, Juli 2023).Sedangkan pameran bersama yang pernah Nasirun ikuti sebagian di antaranya “Pathos of the Fringes” (Jeonbuk Museum of Art, Korea Selatan, 2017), “Shah Alam Bienalle” (Malaysia, 2017), “Merayakan Optimisme” (Jogja National Museum, 2019), pameran virtual UI Art X (Universitas Indonesia, 2020), “Yogya Annual Art” (Sangkring Art Space, Yogyakarta, 2021), “Manifesto” (Galeri Nasional, Jakarta, 2022), “Bridge of Colour” (Thailand, 2022), “Bias Borneo” (Taman Budaya Kalimantan Selatan, 2022),“Wiwitan Poso”(Kiniko, Polda DIY, 2023),“Hidup”(Langgeng Art Foundation, Yogyakarta 2023), “Symphony” Kaligrafi oleh UIN Sunan Kalijaga (Taman Budaya Yogyakarta, 2023), “Kita Berteman Sudah Lama” (Bentara Budaya Yogyakarta, 2023), “MEMOAR 24/101” (Universitas Nahdlatul Ulama, Yogyakarta, 2024), pameran MayinArt (Singapore, 2024), dan masih banyak lainnya.
Beberapa karya terkenal Nasirun antara lain:
Pohonpun Berzikir (1996)Miniatur Konflik
Ratu Sejagat
Rebut Dupa
Miss Universe
Imaji Bintang Bima Sakti
Jatilan
Wewayangan Zaman Edan
Kabeh Nganggo Tasmak
Kangen
Ojo Dumeh
Warisan Mahakarya
Wayang Melayu 1 & 2
Ciri khas karya Nasirun:
- Menggabungkan unsur tradisi Jawa dan seni kontemporer.
- Figur manusia dan wayang yang terdistorsi secara ekspresif.
- Warna-warna kuat dan sapuan kuas spontan.
- Mengangkat tema spiritualitas, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat.
Last edited: